JEBAKAN NORMALISASI

Oleh: Am Nasrulloh

Fenomena normalisasi sesuai dengan konsep sosiologi yang disebut Normalization of Deviance (Normalisasi Penyimpangan) yang dipopulerkan oleh Diane Vaughan. Ia menemukan bahwa dalam sistem yang kompleks, orang-orang mulai menerima risiko atau kesalahan kecil sebagai hal yang “biasa” karena selama ini tidak terjadi hal buruk.

Semakin lama, standar sosial atau standar moral diturunkan sedikit demi sedikit. Titik keseimbangan bergeser. Apa yang sepuluh tahun lalu dianggap sebagai “skandal memalukan,” hari ini dianggap sebagai “realitas yang harus diterima.” Ketika titik keseimbangan ini bergeser, orang-orang baru yang masuk ke dalam sistem tidak lagi melihat keburukan itu sebagai keburukan, melainkan sebagai “cara kerja biasa disekitar kita.”

(The way things are done around here).

Menurut KBBI, normalisasi adalah tindakan menjadikan normal (biasa) kembali; tindakan mengembalikan pada keadaan, hubungan, dan sebagainya yang biasa atau yang normal. Tapi kini sedikit bergeser pemaknaannya menjadi tindakan mengubah yang tidak normal menjadi normal. Hal tak biasa bahkan salah, menjadi biasa dan benar.

*Judi dinormalisasi sebagai “usaha dan ikhtiar”.

* Hubungan bebas dinormalisasi sebagai “pergaulan wajar”.

* Korupsi dan Pungli dinormalisasi sebagai “jasa percepatan urusan”.

* Kecurangan dinormalisasi sebagai “strategi bertahan hidup”.

* Pamer Maksiat dinormalisasi sebagai “kebebasan berekspresi”.

Agak laen akhirnya…

Rasulullah SAW memperingatkan bahwa jika suatu kaum membiarkan kemunkaran tanpa ada yang mencegah, maka Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka (HR. Abu Dawud).

Maka, resolusi anti normalisasi harus segera dibuat :

* Berhenti Maklum! Pastikan yang salah tetap salah, sebagaimana yang benar akan tetap benar.

* Kembalikan Rasa Malu: Jangan bangga dengan hasil yang didapat dari jalan yang salah. Harta yang tidak berkah hanya akan menghancurkan ketenangan keluarga.

* Berani Menegur dan meluruskan: Kepedulian kita adalah benteng. Jika melihat tetangga atau kawan terjebak maksiat/pinjol/judi, jangan diam. Rangkul dan ingatkan sebelum mereka hancur.

* Kolaborasi Orang Baik: Penjahat berkolaborasi memupuk kesalahan, maka orang baik tidak boleh bergerak sendiri-sendiri. Harus bersatu mendukung sistem yang jujur dan menutup celah normalisasi kesalahan di lingkungan kita.

Solusi utama adalah kesadaran kolektif bahwa perubahan besar adalah tumpukan dari keberanian kecil.  “Lompatan perubahan bisa dimulai berhenti ikut tertawa pada lelucon yang merendahkan, berhenti ikut menyuap meski itu mempercepat urusan, dan mulai menyalakan kebaikan pada lingkungan sendiri.”

Semoga pada masa depan, kebaikan masih menjadi perilaku normal dan keburukan tetap menjadi TIDAK normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top