Meminjam hati

Oleh: HGY

Salah satu ketakukan menjadi orang tua terhadap anaknya adalah tidak bisa mengurus dengan layak dan menyelamatkan setiap langkah bayi kecilnya. Terasa hiperbolis namun kecemasan terhadap masa depan dunia akhirat  terasa setiap helaan nafas. karena untuk orang tua, anak selalu menjadi bayi kecil yang harus selalu di lindungi.

Seorang ibu yang tidak tidur, meminjamkan ketenangan hati untuk sang buah hati yang sedang sakit.

Seorang ayah yang selalu awas, meminjamkan keringat dan mimpi  yang mungkin tak sempat ia kejar karena ada tubuh mungil yang harus dijaga. Mereka menyusutkan dunia  agar dunia anaknya bisa lebih luas untuk digunakan melangkah. 

Menitipkan sebagian mimpi, sebagian waktu, sebagian jiwa, ke dalam diri buah hati bukan tanpa risiko.  Ada lelah, kecewa dan patah hati. Meminjam hati bukan hanya kiasan dan hiasan kalimat. Meminjam hati merupakan tindakan melepaskan diri. 

Meminjam….tentu harus dibayar

Cicilan yang coba dilunasi tapi tidak lunas-lunas  karena yang dipinjam tidak bisa terbayarkan. Detak jantung, rasa bahagia, mata berbinar serta rindu tidak bisa diganti dengan rupiah dan dollar. Gagal bayar sangat mungkin terjadi karena ada masalah konversi. 

membayar pinjaman hati bukan bicara mengenai pelunasan. Hati dibayar hati sungguh tidak adil jika mengubah kesepakatan sepihak. Ujung drama yang bisa menjadi tragedi. Kebangkrutan karena merasa investasi tidak berbuah manis. 

Meminjam hati orang tua adalah hutang yang tak akan pernah lunas. Namun  hutang ini bukan beban karena tidak ada orang tua yang akan menjadi debt collector hati. Cara terbaik mengelola pinjaman hati adalah membayar sesuai yang dipinjamkan meskipun ada ketidakutuhan. Siklus pinjam meminjam hati akan menjadi siklus tak berujung pada generasi selanjutnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top