MENJEMPUT FINISH

Oleh: Am Nasrulloh

Hari ini, alam semesta seolah ikut berbisik lirih. Jumat “terakhir” di bulan Ramadhan telah tiba. Ini bukan sekadar penanda bahwa mudik sudah dekat atau hidangan lebaran mulai disiapkan, melainkan alarm bagi jiwa bahwa “madrasah” terbaik ini akan segera melipat sajadahnya.

Diriwayatkan bahwa di hari-hari terakhir Ramadhan, Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA sering terlihat sangat gelisah sekaligus bersemangat. Mengapa? Bukan karena ia belum menyiapkan keperluan Idulfitri, melainkan karena ia sangat cemas akan satu hal: Diterimakah amalku?

Di penghujung Ramadhan, beliau pernah berseru dengan suara yang menyayat hati:

“Aduhai, siapakah yang diterima amalnya agar kita bisa mengucapkan selamat kepadanya? Dan siapakah yang tertolak amalnya agar kita bisa berbela sungkawa kepadanya?”

Begitu juga dengan Rasulullah SAW. Saat memasuki 10 malam terakhir, beliau “mengencangkan ikat pinggangnya” (meninggalkan tempat tidur/urusan duniawi), menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Beliau tidak mengendur di akhir, justru melesat lebih kencang saat garis finis mulai terlihat.

Mengapa Kita Harus Totalitas Sekarang?

Jika para sahabat yang sudah dijamin surga saja masih merasa “kurang” dan menambah kecepatan di akhir, bagaimana dengan kita?

Amalan Tergantung Penutupnya: Ibarat pertandingan, bagian yang paling diingat adalah kondisi finish-nya. Begitu juga Ramadhan. Jangan biarkan Allah melihat kita justru tertinggal, sedang asyik “lalai” di saat-saat paling krusial.

Menebus Kelalaian: Jika di awal Ramadhan kita banyak tidur, banyak mengeluh, atau jarang tadarus, Jumat ini adalah “pemutihan”. Totalitaslah dalam sisa waktu yang sempit ini untuk menutup lubang-lubang amalan yang bocor itu. Perbanyak tilawah, perlama sujud, tingkatkan sedekah dan beragam amal soleh terbaik lainnya.

Mengejar Husnul Khatimah Ramadhan: Kita ingin mengakhiri Ramadhan dalam keadaan terbaik (Husnul Khatimah), bukan dalam keadaan jenuh atau menurun intensitas amal. 

“Jangan sampai kita menjadi orang yang paling menyesal saat Idulfitri tiba, bukan karena baju yang tidak baru, tapi karena Ramadhan berlalu tanpa sempat kita membasuh dosa di dalamnya.”

Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk melakukan finish terbaik tahun ini.

*Saling mengingatkan, saling doakan…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top