
Oleh: Lisa Kustina
Dalam banyak rumah tangga, ada satu kebiasaan lama yang terus diwariskan tanpa pernah benar-benar dipertanyakan: bahwa diam adalah tanda hormat, dan berbicara adalah tanda perlawanan. Ketika seorang istri menyampaikan pendapat, apalagi yang berbeda dari suami. Ia kerap dihadapkan pada label yang berat: pembangkang.
Padahal, jika kita mau menengok lebih jauh ke belakang, baik dalam sejarah peradaban Islam maupun dalam psikologi relasi modern, narasi itu tidak pernah sepenuhnya benar.
Islam membangun relasi suami-istri di atas dua fondasi utama: mawaddah (kasih) dan rahmah (sayang). Tidak ada ruang dalam fondasi itu bagi pembungkaman. Justru sebaliknya, musyawarah, saling mendengar, dan saling menghargai adalah bagian dari nilai yang secara eksplisit ditunjukkan dalam praktik kehidupan para tokoh terbaik Islam.
Nabi Muhammad SAW, yang kehidupan rumah tangganya menjadi teladan bagi jutaan umat, tidak pernah membungkam istri-istrinya ketika mereka menyampaikan keluhan, keberatan, atau bahkan kekecewaan. Beliau mendengarkan. Bukan karena terpaksa, tetapi karena beliau memahami bahwa sebuah rumah tangga yang sehat hanya bisa berdiri di atas percakapan yang jujur.
Selanjutnya, kisah Umar bin Khattab di mana di hadapan khalayak, seorang perempuan berdiri dan mengoreksi kebijakan Umar terkait pembatasan mahar. Bukan dengan berbisik, bukan di ruang tertutup, melainkan secara terbuka. Dan Umar, yang terkenal tegas dan berwatak keras, justru berkata dengan lantang: “Perempuan itu benar, dan Umar salah.”
Ini bukan sekadar anekdot. Ini adalah pelajaran tentang bagaimana kekuasaan bahkan dalam skala negara seharusnya tidak alergi terhadap koreksi. Apalagi dalam skala rumah tangga.
Demikian pula kisah Hindun binti Utbah, yang mengadukan suaminya kepada Nabi karena merasa kebutuhan keluarganya tidak terpenuhi dengan layak. Nabi tidak menegurnya karena berani bicara. Nabi justru memberikan solusi. Pesan yang tertinggal dari kisah ini sederhana namun dalam: perempuan berhak memperjuangkan kesejahteraannya, dan itu bukan pembangkangan.
Masalahnya bukan ketika perempuan bicara. Masalahnya justru ketika perempuan dipaksa untuk diam.
Rumah tangga yang seolah harmonis karena sang istri tidak pernah protes bisa jadi menyimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa sakit yang dipendam, kebutuhan yang terabaikan, dan kepercayaan yang perlahan runtuh. Diam bukan selalu tanda damai. Kadang, diam adalah tanda bahwa seseorang sudah menyerah untuk didengar.
Psikologi relasi modern menegaskan hal yang sama: komunikasi dua arah adalah prasyarat dari kepercayaan. Pasangan yang mampu berbicara jujur, termasuk tentang perbedaan dan ketidakpuasan, justru memiliki fondasi yang lebih kokoh dibandingkan dengan mereka yang memilih tampak sempurna di permukaan.

