Pendidikan Barak Militer

Oleh: AM. Nasrulloh

Kedisiplinan dan karakter softskills lainnya, semakin terbukti menjadi hal utama dalam pendidikan. Sehingga ditengah berbagai kontroversi, pengiriman anak nakal ke Barak Militer disinyalir menjadi jawaban terhadap kebutuhan ini. 

Kenakalan anak remaja memang mengkhawatirkan. Data miris menunjukkan bahwa kekerasan pada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen (UNICEF 2016). Sedangkan menurut Kementerian Kesehatan RI 2017, terdapat 3,8 persen pelajar dan mahasiswa yang menyatakan pernah menyalahgunakan narkotika dan obat berbahaya.

Dilain pihak berbagai data penelitian menunjukkan bahwa kenakalan anak dan remaja ini terdampak dengan kondisi pendidikan keluarga dan lingkungan.

Sehingga, peran keluarga seharusnya lebih ditingkatkan untuk menahan perilaku miris pada anak dan remaja.

Namun, kenyataan justru berbeda. Dengan konsep barak militer kita melihat berbagai fenomena, antara lain : keluarga yang seolah sudah lepas tangan dengan memasukkan anaknya ke barak militer. Bahkan barak militer menjadi “ungkapan ancaman” apabila ada sesuatu yang keluar dari seharusnya.

Padahal, pendidikan seharusnya diawali dari keluarga dan harus memastikan peran keluarga tetap dominan dalam proses pendidikan. Barak Militer seperti pilihan metode pendidikan lainnya, bisa dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Tapi bukan arena “lepas tangan” dari pendidikan keluarga.

Uswah sejarah telah menunjukkan. 

Kesolehan seorang anak bernama Ismail as, adalah pendidikan kolektif keluarga. Diawali kesadaran bahwa anak adalah titipan Ilahi yang harus diberi pendidikan sesuai kehendakNya. Maka keluarga Nabi Ibrahim as. dengan taatnya kepada Allah, berhasil menciptakan keturunan yang soleh bahkan menjadi Nabi dan Rasul.

Kurikulum utamanya adalah bagaimana bisa memastikan semua anggota keluarga terbebas dari api neraka. Bukan hanya diawali dengan pendidikan berorientasi karir dan materi dunia.

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….” (At-Tahrim:6)

Karena bisa jadi kesalahan orientasi pendidikan keluarga, menjadi awal keluarnya anak dari rel yang seharusnya.

Maka, revitalisasi pendidikan adalah agenda utama yang bisa membersamai anak apapun kenyataannya. Dimanapun anak sekolah, maka pendidikan utamanya adalah ketaatan kepadaNya dengan kebersamaan keluarga.

Akhirnya,

Barak militer adalah pilihan, namun pendidikan keluarga dalam ketaatan adalah keharusan. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top